Senin, 15 Juni 2015

hymne farmasi


HYMNE FARMASI


Disini kami bersatu, bergandeng tangan
Bulatkan tekad, satukan langkah
Wujudkan cita-cita amat mulia
Harumkan namamu Farmasi
Kibarkan Panjimu, raih masa depan

Jiwa raga kami serahkan
Bukti cinta padamu Farmasi
Bakti kamu untukmu, demi Jaya Farmasi
Kobarkan semangatmu, raih cita-cita

Harumkan namamu Farmasi
Kibarkan panjimu, raih masa depan
Jiwa raga kami serahkan
Bukti cinta padamu Farmasi
Bakti kami untukmu, demi jaya Farmasi (2x)



mars farmasi universitas hasanuddin

MARS FARMASI UNIVERSITAS HASANUDDIN


Mahasiswa fakultas farmasi
Universitas Hasanuddin
Penuh kreasi dan inovatif
Tulus dan ikhlas dalam berkarya

Mahasiswa fakultas farmasi
Tinggi ilmu dan beriman
Bulatkan tekad, mantapkan langkah
Demi membangun bumi pertiwi
Ular dan cawan terpampang kokoh
Lambang bulatnya, membakar….
Semangat perjuangan

Fakultas farmasi selalu di hati
Darmaku padamu takkan berakhir
Fakultas farmasi songsong asamu

Jayalah spanjang masa…. (2x)

mars universitas sedunia

MARS UNIVERSITAS SEDUNIA


Gaudeamus igitur
Juvenus dum humus
Post lucundam luventutem
Post melestem selectutem
Nos habebit humus (2x)

Vivat academia!
Vivat professors!
Vivat membrum aquadlibet
Vivat membrum quaelibet

Vivat senators (2x)

mars universitas hasanuddin

MARS UNIVERSITAS HASANUDDIN


Universitas Hasanuddin
Panjimu kita bawa serta
Pancangkan di medan bakti namamu kita bawa bersama
Membina kejayaan nusa
Indonesia bahagia
Putra putrimu kini bangkit dengan jiwa Hasanuddin
 Reff:  Relakan kami padamu negeri
Izinkan kami bagimu pertiwi
Almamater Universitas Hasanuddin
Karunia ilahi
 Ayam jantan lambing perkasa
Benteng teguh wirabuana
Ke timur ke barat satu utara selatan nusantara
Nusa bhineka tunggal ika
Nyiurmu dan padimu
Glora pantaimu lembah gunungmu
Menjadi tempat mengabdi
 Back to reff

Sabtu, 06 Juni 2015

Selamat Ulang Tahun yang Ke-42 mama. Sebait puisi untuk mama: MAMAKU YANG TERHEBAT

Mama, hari ini adalah hari ulang tahunmu
Aku tak dapat memberikan kado ataupun hadiah yang mahal dan istimewa untuk mama
Hanya sebait puisi untukmu. Kurangkai sebagai hadiah special
Puisi ini adalah ungkapan hatiku padamu mama, yang sangat aku sayangi.
Untukmu mama...

MAMAKU YANG TERHEBAT
Teriris luka tak mampu menangis
Tersakiti mampu bertahan
Engkau selalu membalas senyuman mu untukku
Engkau kuat,sabar,dan tegar
Tak ada yang mampu mengalahkan kehebatanmu
dialah mamaku, mama yang telah melahirkanku
hingga aku sudah dewasa
Mama.. kau melewati banyak rintangan
Mama.. kau rela mengurus kami dari pagi sampai sore
Bermandikan cucuran peluh
Hanya iringan dedaunan menemanimu
Hanya suara-suara burung yang menemani lelahnya harimu
Andai aku tau,andai aku bisa menggantikanmu
Tak rela aku melihatmu, terbasahi cucuran peluhmu
Aku rela menjadi pengusap peluhmu
Mama….engkau nafasku
Engkau rintihan jiwaku
Engkau adalah batinku
Terima kasih mama atas semua yang kau perjuangkan selama ini demiku.


Minggu, 19 April 2015

Resume Diksar-IV PRC Azka Asfarinda (PRC.04.0016.FF-UH)

PRC Untuk Menyelamatkan



Pharmacy Rescue Committee dengan tema diksarnya kali ini yaitu “Being human is a given, keep our humanity is a choice”.  Merupakan slogan yang sudah pernah saya dengar. Maksud dari slogan ini juga merupakan  salah satu tujuan saya memilih daftar menjadi anggota baru PRC yaitu memilih untuk menjadi manusia yang menjaga kemanusiaan.
Pertama saya tertarik dengan PRC, yaitu pada saat pengenalan UKM farmasi di pra resep tetapi saya mendapatkan lebih banyak informasi mengenai PRC pada saat sosialisasi UKM farmasi di acara PDKMF 2014. Banyak hal yang membuat saya tertarik dan merasa cocok untuk masuk PRC. Terutama menjadi relawan, yang tidak dibayar bukan karna tak bernilai tetapi tidak ternilai. Tepat saat selesai acara PDKMF saya langsung mencari formulir untuk mendaftarkan diri.
Wawancara untuk calon peserta diksar dimulai pada tanggal 14, tetapi saya mengikuti wawancara pada hari terakhir tgl 21 dan satu hari itu saya menyelesaikan 3 wawancara sekaligus. Dari jam 4 sore sampai jam 10 malam. Pewawancara saya yaitu kak ismul saat tes keorganisasian, kak viros saat tes kepribadian dan kak ismul lagi saat tes loyalitas. Kaka kaka yang menjadi pewawancara adalah orang yang sudah sepenuhnya ikhlas untuk menolong org lain dan saya belajar banyak dari beberapa pertanyaan mereka.
Yang mendampingi tes binjas saya yaitu kak abdillah, tesnya terdiri dari push up, sit up dan back up satu set. Saya mendapatkan skor yang lumayan tinggi. Tetapi saat satu hari sebelum pengumuman entah dengan aslasan apa saya , indev, indar dan dias diminta utuk tes ulang binjas. Indev menyerah ikut tes ulang, jadi hanya kami bertiga yang tes ulang. Padahal sakitnya badan belum hilang sedikitpun.
Saat hasil tes keluar, saya aga ragu untuk lulus karna banyak sekali yang mendaftar baik angkatan 2014 maupun 2013 bahkan 2012. Tapi saat melihat postingan daftar nama yang lulus ke indor, Alhamdulillah kalo tidak salah baca ada  nama azka asfarinda. Dan saya bersyukur diberi kesempatan untuk masih menjadi calon anggota PRC dan melakukan tes tahap selanjutnya yaitu tes binjas.
Materi indoor dimulai pada tanggal 29 maet, di lab fitokimia. Materi pertama Bontani dan Zoologi, materi kedua Navigasi materi ketiga sejaran dan arti lambing PRC. Saya merasa rugi tidak materi mendapatkan materi indoor dikarnakan kurang enak badan. Dan Alhamdulillah kaka masih memberi kesempatan untuk presentasi bagi yang tidak mengikiuti materi. Materi dilanjutkan pada tanggal 3 april di BEM, materi kempat yaitu komunikasi lapangan, materi kelima Survival, materi keenam managemen bencana dan teknik pencarian korban, materi ketujuh PPGD materi kesembilan Role of PRC inSupporting Health Care To Serve.
Untuk peserta diksar wajib melalukan binjas sebanyak 6 kali. Binjas terdiri dari lari keliling unhas, dan set yang terdiri dari push up, sit up, back up. Satu set binjas berjumalah 13 kali. Saat binjas pertama badan saya kaget karna akhir-akhir ini jarang olahraga, semua badan terasa sakit, tapi tidur makin nyenyak. Binjas selanjutnya badan mulai terasa ringan, tapi tidur tetap nyenyak. Dan pada binjas ke 4 dan ke 5 akhirnya kuat bawa carrier keliling unhas. Pertma saya mengeluh kenapa harus binjas sampe 6 kali dan jumlah setnya bertambah ternyata itu sangat bermanfaat saat pendakian.
Setelah materi indoor dan binjas selesai, diumumkanlah nama-nama peserta diksar IV. Dan Alhamdulillah lagi, kalo tidak salah baca ada nama azka asfarinda. Saya senang namun aga sedih karna 2 teman angkatan  saya tidak lulus menjadi peserta diksar. Padahal mereka pernah mengikuti materi dan binjas walaupun tidak lengkap. Saat pembagian kelompok, sepertinya saya orang paling beruntung masuk ke kelompok 3 dan menjadi junior bawang dsna karna hanya saya angkatan 2014. Saya sekolompok dengan kak nini, kak cani, kak tami, kak aul, kak fajrin, kak malvin. Ditambah lagi kaka pembimbing kami kak eja yang super baik dan paling sabar.
Tibalah saat packing untuk persiapan mendaki dihari jumat pagi. Awalnya saya agak ragu untuk ikut karena meninggalkan 2 praktikum, lab farfis dan lab farmakognosi. Tapi kapan lagi bisa jadi anggota PRC kalo bukan sekarang. Saya memutuskan ikut, saya mempersiapkan barang barang yang perlu dibawa, malam jumat saya pergi meminjam barang yang masi kurang dan membeli beberapa barang dan makanan yang diperlukan.
 Sebelum brangkat menuju lembah loe sebagai tempat diksar, saya berkumpul ditaman BEM dengan peserta diksar, kakak-kakak PRC, dan partisipan. Kami bedoa bersama untuk keselamatan perjalan selama 3 hari dan doa dimpin langsung oleh kordinator lapangan kanda fachril thohari. Kami berangkat menggunakan truck pasir, dan sialnya ditengah perjalanan hujan turun dan kami kebasahan karna terpalnya tidak dibentangkan dan kami kesulitan mencari ponco karna hujan datang tiba tiba. Alhasil diperjalan baju, sepatu dan yang lainnya basah. Sehingga kami kedinginan sebelum sampai dimalino.
Tibalah kami dimalino tepatnya dikaki gunung bawakareang. Hujan berhenti tapi kami masih kedinginan karna baju yang basah dan juga cuaca malino yang sangat dingin. Kami istirahat shalat, dan langsung menuju lokasi diksar. Kami berangkat pukul 5 sore dan hanya bisa menempuh perjalanan sampai posko 1 karna sudah malam. Kami mendirikan tenda, makan, shalat dan tidur dipinggir jalan bukit dekat sungai.
Pagi harinya kami dihadiahi set dan kami  diminta untk resection dan kelompok terakhir mendapatkan hasil tembak terkena zuonk harus membawa sampai bekas kita semua berkemah dsna. Dan untungnya dikelompok 3 ada kak cani dan kak aul yang jago resection, akhirnya kami selamat dari zonk tersebut dan menjadi kelompok pertma yang berangkat.
Diperjalan banyak kendala seperti jalan terjal, licin, tanaman berduri, dll. Saya juga cukup kaget karna perjalanan yang jauh sekali dan serasa tidak pernah sampai. Tetapi untungnya kelompok 3 ada kak fajrin yang selalu semangat menjadi pembuka jalan. kak malvin yang selalu sabar dmenjadi sweeper dan kak eja yang selalu menyemangati dan membingbing kami. Ada juga kak nini yang selalu semangat dan tidak pernah lelah, kak cani yang cepat lelah tetapi semangat menjadi navigator, kak aul yang selalu melucu dan membuat kami tertawa, kak tami yang selalu menyanyi ~PRC untuk menyelamatkan~ dan saya menjadi anak bawang saja.
Dan akhirnya kelompok 3 menjadi kelompok pertama yang sampai ditallung dan mendapatkan bonus berfoto ditallung walaupun kami mendapat juga bonus 2 set ditambah 5 set wajib dari kaka riel karna terlambat dating. Kami meelanjutkan perjalanan dan tidak lama sampailah kami dilembah loe yang ditutupi kabut dan dikelilingi gunung juga banyak sapi dan ranjaunya.  Kami sampai dilokasi jam 3 sore dan langsung mendirikan tenda, memasak nasi, shalat dll.
Saat sore hari kami melakukan simulasi korban bencana, ada yang menjadi tim awal, tim evakuasi, dan tim medis. Simulasi berakhir dengan set karna kami melakukan banyak kesalahan dan memang simulasi berjalan tidak lancer. Tibalah waktu malam yang akan menjadi malam malam panjang, semua peserta sibuk membicarakan apa yang akan terjadi di malam ini. kami dikumpul dan diberikan intruksi membuat tandu dan kelompok yang jelek tandunya mendapatkan hadias set lagi. Tetapi Alhamdulillah kelompok 3 selalu lolos dari set karna tepat waktu menyelesaikan tandu dan juga tandunya kuat.
Jam 10 malam kami diberi kesempatan untuk tidur, memakai baju dan celana basah bekas hiking. Jam 1 malam kami dibangunkan secara tiba-tiba dan disuruh membuat bivak ditengah hutan dan kami tidur disana sampai jam 3 subuh. Saat itu adalah malam paling dingin yang saya rasakan tetapi saya heran sempat tertidur padahal situasi dan kondisi tidak mendukung.
Kami dibanngunkan jam 3 subuh dan diminta membereskan bivak lalu kumpul didepan tendan panitia dan mendapatkan hadiah set lagi. Tetapi ada juga hadiah lainnya yaitu susu hangat dari kaka panitia. Agenda selanjutnya yaitu kami perkelompok harus melakukan simulasi evakuasi korban menggunakan tandu tetapi melalui berbagai medan yang penuh rintangan.
Yang menjadi korban dikelompok 3 adalah kak tami yang sepertinya paling ringan, luka yang dialami ceritanya luka patah tulang. Diposko pertama medan yang dilewati berupa celah sempit teknik yang dibutuhkan yaitu memperhatikan posisi kepala, leader memeriksa medan dan harus cepat mengambil strategi, kak arni dan maghfira menghadiahi kami bertubi tubi set karna dingin, kesalalahan dan tidak fokus. Posko ke dua yaitu posko tembok tinggi teknik yang diperlukan adalah mengangkat korban setinggi mungkin dengan memperhatikan posisi luka dan kepala juga dibutuhkan kerja sama yang baik. Diposko ke tiga yaitu posko gunung yang memiliki medan naik dan turun yang lumayan curam. Teknik yang dibutuhkan yaitu memperhatikan posisi kepala saat naik maupun turun dan juga leader harus bisa mendeskripsikan medan kepenanandu dan membuat startegi. Posko ke 4 yaitu posko gua sempit dimana kita harus mengevakuasi korban dengan cara tiarap dan hanya kelompok 3 yang berhasil membawa korban menelusuri gua walaupun korban sudah dalam keadaan meninggal karna terlalu lama berada didalam gua.
Ya akhirnya malam panjangpun telah memendek karna matahari sudah mulai terbit walaupun hanya cahayanya yang terlihat. Kami masih tetap dihadiahi set terus menerus dan ditambah bonus dadar guling. Kami istirahat shalat dan bersih bersih sejenak juga minum hangat bersama kaka kaka panitia.
Tiba saat yang paling seru dan menegangkan yaitu pencarian nomor anggota. Dimana kita pertamakalinya berkompetisi antar peserta untuk mendapatkan nomor anggota. Pertama kita harus melewati rintangan gua sempit lalu berlari dilumpur, menaiki bukit dan menembak tempat nomor peserta disimpan yang suda ditentukan masing masing sudutnya. Nomor peserta tersembunyi ditempat tidak terduga ada yang didalanm kotoran sapi, didalam lumpur, diatas pohon, dibalik semak, didalam tanah, dibawah batu bahkan ada yang didepat pandangan. Saya menjadi orang ke 6 yang mendapatkan nomor peserta didalam tanah dengan nomor peserta: PRC.04.0016.FF-UH
Setelah semua peserta mendapatkan nomor pesertanya mulai dari 0001 – 0016 dan upacara pun akan dimulai. Kak ismul sebagai Pembina upacara, kak mute sebagai protocol, soalihin sebagai pemimpin upacara dan kak malvin sebagai pemimpin barisan. Agenda utama upacara yaitu pemakaian slayer merah PRC kepada para peserta diksar. Upacara berlangsung hidmat ditengah lembah yang diselimuti kabut sambil menyanyikan lagu Indonesia raya, mars unhas dan mars farmasi. Juga diberi kesempatan bersalaman dengan kaka kaka PRC. Upacara berakhir dengan foto dan groupy bareng kaka panitia.
Setelah itu kami membersihkan badan, shalat, sarapan dan membereskan tempat. Dengan keadaan cuaca yang hujan gerimis kami melakukan perjalanan pulang, tetapi kali ini kami pulang bersama sama. Saya melakukan perjalan pulang bersama kak tami, kak auld an kak eja. Walapun kaki sudah lelah berjalan tetapi Alhamdulillah akhirnya kami sampai juga dengan selamat. Dan setelah itu kami istirahat sejenak dan bersiap bersiap untuk pulang. 

Kami pulang menggunakan truck pasir lagi, tetapi tidak terlalu dingin karna kami sudah ganti pakaian kering yang dipinjamkan oleh kaka kaka panitia dan kami menggunakan sb diatas truck. Perjalan terasa singkat karena jalanan lancar dan saya tertidur. Akhirnya kami sampai didepan rektorat pada pukul 23.30. Semua orang bergegas pulang dan cerita tidak berhenti sampai disini.  


Kamis, 12 Maret 2015

Reposisi dan Reaktualisasi Apoteker Indonesia

           Eksistensi apoteker Indonesia belakangan marak dibicarakan di kalangan sejawat apoteker. Pada media sosial seperti facebook, acap dibaca keluhan, umpatan, dan pendapat para sejawat tentang praktek profesi apoteker di tanah air. Banyak sejawat yang merasa profesinya kurang dihargai. Apa buktinya? “Lihat saja gaji apoteker di apotek, masa lebih kecil dari UMR”, tulis seorang sejawat. Ada pula komentar yang mengaitkan tidak terteranya kalimat mengenai peran apoteker dalam peraturan pemerintah yang berkaitan dengan implementasi BPJS Kesehatan.
Jika disimak sejarahnya, tercabutnya sebagian peran apoteker dari apotek komunitas terjadi sejak diterbitkannya PP no. 26 tahun 1965 Tentang Apotik oleh presiden Sukarno. Menurut Peraturan Pemerintah tersebut, izin apotek hanya diberikan kepada lembaga pemerintah tertentu, perusahaan negara, perusahaan swasta dan koperasi. Peraturan pemerintah itu menghapuskan hak apoteker sebagai pemegang izin (sebelumnya, dari zaman penjajahan Belanda hingga 1965 hanya dikenal apotek yang didirikan apoteker). Pada saat PP tersebut diumumkan, tidak ada protes dari apoteker, karena saat itu nuansa politik dan jargon Ekonomi Terpimpin tengah menggiring pendapat umum yang “mengharamkan” suatu usaha yang menonjolkan kepentingan perorangan dalam masyarakat. Faktor lain, Ketua ISFI saat itu, adalah Purnomo Singgih, yang merupakan anggota HSI, Himpunan Sarjana Indonesia (onderbouw PKI), pendukung berat presiden Sukarno.
Usul untuk merubah PP 26 tahun 1965 tersebut baru dicetuskan para apoteker pada saat berlangsung Kongres ISFI di era awal orde baru tahun 1967. Namun model apotek yang izinnya atas nama lembaga/ perusahaan (apoteker hanya sebagai penanggung jawab) terlanjur menjamur mengingat tingginya tingkat keuntungan usaha apotek saat itu. Kendali apotek-appotek komunitas telah terlalu banyak bergeser ke tangan pengusaha. Di samping itu, pertumbuhan apotek yang tinggi tidak diikuti jumlah tenaga apoteker yang memadai. Untuk mengatasinya, banyak apotek didirikan dengan menggunakan tenaga apoteker pegawai negeri dan ABRI. Karena bukan pekerjaan utama, tingkat kehadiran apoteker-apoteker tersebut di apotek tidak bisa penuh waktu, sementara pengusaha tidak memusingkan kehadiran apoteker karena pekerjaan di apotek dapat diambil alih oleh tenaga non apoteker. Apoteker yang hanya datang beberapa jam seminggu ke apotek mulai bermunculan. Malah kalangan apoteker sendiri ada yang bangga karena menerima gaji yang lumayan besar dari apotek walau datang hanya beberapa kali dalam sebulan.
Namun banyak juga apoteker yang kecewa karena kewenangan mereka di apotek sudah dicaplok oleh pemodal. Upaya untuk mengembalikan kewenangan apoteker secara penuh mulai diusahakan oleh pengurus Ikatan sarjana farmasi Indonesia di bawah pimpinan Sukarjo.
Upaya untuk mereposisi peran apoteker mendapat momentum dengan dikeluarkannya PP 51 tahun 1980 yang pada dasarnya ingin mengembalikan apotek sebagai tempat pengabdian profesi apoteker. Tentu saja apoteker Indonesia sangat senang dengan peraturan pemerintah tersebut karena izin apotek menurut PP tersebut diberikan kepada apoteker. Namun tentangan terhadap PP 25 oleh para pengusaha apotek saat itu sangat luar biasa. Beberapa bulan setelah PP 51 keluar ramai polemik mengenai pro dan kontra PP tersebut di koran-koran ibukota. Akhirnya terjadi “pelemahan” PP 25, dimana izin apotek selain kepada apoteker juga dapat diberikan kepada apoteker yang bekerja-sama dengan penyedia sarana apotek.
Memang, pada saat-saat awal penerapan PP 25 tahun 1981, terjadi “dampak positif”: peningkatan honor untuk sebagian apoteker komunitas. Sayangnya hal ini tak diikuti kesadaran keterlibatan apoteker di apotek dalam memberikan pelayanan. Sebagian apoteker di apotek komunitas swasta tetap jarang datang ke apotek. Mereka masih jarang datang ke apotek. Sangat disayangkan, momentum terwujudnya praktek apoteker sesuai fungsi dan perannya dengan bantuan PP 51 gagal dimanfaatkan apoteker Indonesia.
Tahun demi tahun berlalu, peran apoteker di apotek komunitas semakin berkurang, beriringan dengan merosotnya gaji apoteker penanggung jawab. Pikiran-pikiran untuk mereposisi peran dan fungsi apoteker merebak kembali. Di tahun 2008 ISFI yang saat itu dipimpin Haryanto Dhanutirto mencanangkan program TATAP (Tiada Apoteker Tiada Pelayanan). Suara-suara untuk merevitalisasi apoteker Indonesia mulai disemai kembali.
Di penghujung 2009, muncullah PP 51 tentang pekerjaan Kefarmasian yang pada hakekatnya bertujuan mengembalikan fungsi pelayanan farmasi , yang disusul Permenkes 889 tahun 2011. Dengan PP tersebut tidak dimungkinkan lagi pekerjaan kefarmasian dilakukan oleh fihak-fihak non farmasi yang tidak kompeten . Maklumlah, pada PP No. 51 tersebut terdapat kalimat pamungkas: ” Pekerjaan Kefarmasian harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu”, di samping kalimat fasal 21 ayat 2 yang berbunyi: ” Penyerahan obat berdasarkan resep dokter dilaksanakan oleh apoteker”. Dengan demikian apabila PP ini mulai efektif diberlakukan, “terlarang ” bagi apotek yang apotekernya tidak ada di tempat melayani resep dokter. Dengan kata lain, selama apotek buka atau beroperasi, apoteker harus ada di tempat. Untuk mengatasi kondisi apabila apoteker berhalangan, apoteker pemilik/ pengelola apotek dapat mempekerjakan apoteker pengganti yang jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing apotek.
PP 51 dan Permenkes 889 yang terbit sesungguhnya merupakan tool berharga bagi apoteker Indonesia untuk mereposisi peran dan fungsinya agar setara dengan profesi apoteker di negara maju. Penataan kembali dunia apoteker Indonesia telah dilakukan dengan registrasi kembali lewat STRA yang disusul SIPA/ SIKA. Momentum ini juga dimanfaatkan oleh Ikatan Apoteker Indonesia untuk menata organisasi lewat konsolidasi yang lebih intensif dengan pengurus cabang dan anggota. Para apoteker yang setelah sudah mati gaya dalam menambah ilmu, dipaksa untuk belajar kembali lewat SKPA, dan sarana pendidikan berkelanjutan lainnya.
Perilaku hemat waktu (jarang ke apotek) yang dianut sebagian apoteker komunitas di Indonesia bukanlah hal yang perlu ditiru. Sayangnya, datang ke apotek 1 jam sehari atau seminggu sekali atau sebulan sekali adalah praktek yang masih banyak diterapkan apoteker Indonesia.
Menurut pengamatan MEDISINA, walau sudah ada banyak kemajuan dalam keberadaan apoteker di apotek di beberapa daerah, namun di daerah lain masih gampang dijumpai apotek yang beroperasi tanpa apoteker. Selama budaya apoteker hemat waktu masih tinggi prosentasenya, peran dan fungsi apoteker yang ideal sulit diwujudkan. Sayangnya, apoteker hemat waktu itu juga terjadi pada apotek yang dimiliki apoteker.
Karena memiliki kesibukan lain, apotek tersebut kerap operasi tanpa diawasi apoteker.Selain soal kehadiran apoteker di apotek, masih banyak faktor lain yang harus dikoreksi dan diperbaiki. Kualitas apoteker, kesejahteraan apoteker dan perubahan paradigma dalam melayani adalah hal-hal yang mesti diatasi.
Sampurno, mantan Kepala Badan POM , sering melontarkan kritik pedas lewat media sosial tentang masalah ini. Dalam rapat pleno pengurus PP IAI April lalu ia sempat menyampaikan konsep solusinya untuk perbaikan wajah apoteker Indonesia, yang kami muat sebagai pelengkap laporan utama.
Pelbagai upaya masif agaknya perlu dilakukan organisasi dan regulator terkait agar upaya mengembalikan peran dan fungsi apoteker di Indonesia dapat wujud secara paripurna. Beberapa upaya yang telah dilakukan untuk melabuhkan profesi apoteker sehingga tak kalah dihargai seperti apoteker di negara maju perlu diapresiasi.

Kurangnya apotek teladan
Kurangnya pengawasan terhadap jalannya regulasi kefarmasian, dan hampir tiadanya teladan, membuat pelayanan apotek komunitas di tanah air berjalan seperti halnya retail biasa. Masyarakat mengenal apotek sebagai tempat membeli obat, bukan tempat yang juga memberi manfaat lebih bagi percepatan perbaikan kesehatannya. Citra apotek sebagai tempat praktek apoteker belum sekuat citra klinik sebagai tempat praktek dokter.
Untunglah, di era serba kekurangan keteladanan ini berkembanglah suatu model apotek yang diharapkan bisa mempercepat ketinggalan apotek komunitas di Indonesia dari apotek komunitas dari negara lain.
Di Jawa Tengah, Yogya dan jawa Timur, kini berkembang suatu apotek jaringan yang mengedepankan pelayanan kefarmasian dengan konsep yang lebih jelas. Apotek-apotek yang luasnya relatif kecil senantiasa dilayani oleh 2 apoteker, Apoteker melaksanakan praktik kefarmasian dengan SOP yang jelas, berkomunikasi langsung dengan pasien, Mereka membuat catatan obat pasien, mewawancarai dan menasehati pasien, memberikan pesan-pesan untuk perbaikan kesehatan. Dan berusaha memilihkan obat sesuai kantong pasien. Apotek jaringan tersebut berusaha mendahulukan pemberian obat generik, sesuai dengan nama apotek jaringan tersebut: apotek Viva Generik.
Di lingkungan sekitar apotek beroperasi, apoteker secara sistematis memberikan kegiatan untuk menambah kualitas kesehatan komunitas cakupannya. Misalnya memberikan ceramah kesehatan di lingkungan RT/ RW, dan mengorganisasi senam bersama.
Apoteker Viva Generik ditekankan untuk menambah pengetahuan kefarmasian yang senantiasa berkembang lewat kursus yang diadakan Ikatan Apoteker Indonesia dan inhouse training yang diadakan perusahaan. Hampir semua apoteker dari apotek Viva Generik yang sekarang berjumlah 133 buah telah mengikuti PCCP (Pharmaceutical Care Certification Program), program sertifikasi yang ditujukan untuk memberikan bekal kepada praktisi apoteker dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan pengalaman praktis yang diperlukan untuk menyediakan layanan kefarmasian di apotek. Dalam waktu dekat mereka akan di training oleh trainer apotek komunitas dari Amerika Serikat (AK)