Senin, 27 Mei 2013

Pidato, Cermah, Khutbah "9 HIKMAH LUAR BIASA MOMENTUM ISRA’ MI’RAJ"



Disampaikan Pada 'Celebration of Isra' Mi'raj' Persatuan Mahasiswa Riau Malaysia (PMRM) cabang IIUM sekaligus silaturrahim dengan PMRM Pusat dan PPI-IIUM, Ahad, 3 Agustus 2008

Pendahuluan

Peringatan Isra’ Mi’raj sudah sering kita peringati. Kalau dihitung sejak pertama kali kita ikuti waktu kecil dulu hingga sekarang, mungkin sudah puluhan jumlahnya. Namun hingga saat ini bisa jadi kita mengikuti Isra’ Mi’raj hanya sekedar rutinitas tanpa pernah menangkap hikmah luar biasa dibaliknya. Maka, kiranya perlu kita gali secara mendalam hikmah luar biasa momentum Isra’ Mi’raj yang dirangkai dalam sembilan kata yaitu: (1) Islam, (2)Sholat, (3)Riadhus Sholihin, (4)Al Qur’an, (5)Masjid, (6)Ihsan, (7)Rahmah, (8) Amal, (9)Jannah.

1.Kenapa Kita Islam

Dalam hidup ini, tidak ada ajaran apapun didunia ini yang luar biasa menyampaikan dengan jelas dan terang tentang Islam. Islam adalah ajaran yang dibangun dengan pondasi dua kalimah syahadat yang mengakui sepenuh hati bahwa tiada yang berhak untuk disembah kecuali hanya Allah semata dan untuk itu kita mengakui bahwa Muhammad adalah Rasul Allah yang dengan keteladanannya kita memiliki contoh nyata dalam seluruh aspek kehidupan untuk meraih keselamatan hidup didunia dan akhirat.

“Hai orang-orang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah:205)

Islam adalah ibadah dan negara, perdamaian dan akhlak, politik dan ekonomi, kilatan pedang dan Al Qur’an. Tidak ada yang tidak diatur dalam Islam. Keseluruhan ajaran islam bersifat integral dan saling berkaitan satu dan lainnya.


Islam juga merupakan ajaran yang hanya diakui oleh Allah SWT. Selainnya tidak diterima dan tidak pernah ada paksaan untuk mengikutinya.

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam...” (QS. Ali Imran : 19)

“Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran : 85)

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat...” (QS. Al Baqarah : 256)


2.Ada apa dengan Sholat

Di seluruh dunia, tidak ada ajaran yang luar biasa mengingatkan penganutnya untuk tetap konsisten dalam kebaikan seperti Islam. Eperti rangkaian aktivitas luar biasa sebelum kita melakukan Sholat. Yaitu: wudhuk, azan dan Iqomah. Dengan aktivitas wudhuk yang benar, maka seluruh anggota tubuh kita dibersihkan dari dosa-dosa kecil. Tubuh juga menjadi segar dan tetap fit. Selain itu badan, pakaian juga mesti bersih dari barang-barang yang haram maupun syubhat, dari najis dan kotoran. Karena kita akan berkomunikasi dengan sang Pemilik Alam semesta: Allah ‘Azza wa jalla.

Selain itu, kita diingatkan dengan azan sebelum sholat. Azan menguatkan kalimah syahadat sehingga disunnahkan kita mengulang apa yang disuarakan muazzin atau bilal saat azan, agar kita juga mendapatkan kebaikan yang sama dengan muazzin.
Untuk seorang muslim, dua kalimah syahadat kita ulang sebanyak:

Deskripsi Jumlah Diulang Total
Azan 2 5X 10
Sholat Wajib Subuh: 2, Zuhur: 2, Ashar: 2, Maghrib: 2, Isya: 2 1X 10
Iqomat 5 1X 5
Total 25

Semakin banyak kita melaksanakan sholat sunat lainnya, maka semakin banyak penguatan kalimah syahadat yang kita lakukan sehingga pondasi Islam kita akan semakin kokoh. Sebaliknya, semakin sedikit kita ucapkan, maka kalimah syahadat akan semakin melemah. Bahkan bisa jadi akan hilang. Na’udzubillahi min dzalik.

Selain itu, sebelum sholat maka dilakukan iqomat. Apa kandungan hikmah luar biasanya? Ingatlah bahwa saat kita dilahirkan, kita diazankan ditelinga kanan dan diiqomatkan ditelinga kiri. Kemudian, saat kita meninggal, kita akan disholatkan. Nah, rangkaian hidup kita sebenarnya hanyalah sepanjang waktu antara azan dan sholat. Yaitu iqomat. Sungguh sangat singkat!

Wajar kiranya sholat menjadi pembeda antara Muslim dan non-Muslim. Sholat juga merupakan kunci Syurga. Selain itu, sholat juga merupakan ibadah utama.

“...Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-badah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Ankabut : 45)



3.Mengapa Riadhus Sholihin

Riadhus sholihin adalah riwayat hidup orang-orang yang sholih yang telah mendahului kita dan telah membuktikan bagaimana kontribusi mereka pada Islam, dakwah dan kebaikan pada Ummat manusia didunia ini.

Riadhus sholihin utama, tentunya adalah riwayat kehidupan Rasulullah Muhammad SAW yang kita kenal dengan As Sunnah. Yang merupakan panduan mengarungi kehidupan agar dapat mencapai prestasi-prestasi kehidupan untuk dapat hidup kekal nan abadi di akhirat kelak.

Peran apapun yang ingin kita lakukan, contohlah Rasulullah SAW karena ia merupakan manusia teladan sepanjang zaman. Karena peran luar biasanya dalam mengajak manusia ke jalan Allah, menyeru manusia pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab:21)

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf : 108)

Sadar atau tidak, kita merupakan umat terbaik bagi manusia ini. Dengan syarat, kita mau menjadi da’i dengan meniti jalan dakwah yang menyeru manusia kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran serta benar-benar beriman kepada Allah, walau apapun profesi, keahlian dan pendidikan kita.

Dakwah harus bersih dan suci. Kebersihannya benar-benar mulia, hingga melampaui ambisi pribadi, menganggap kecil keuntungan materi, meninggalkan hawa nafsu dan kesenangan sementara. Ia melaju di jalan Allah swt untuk para da’i.
Tidak meminta sesuatu pun dari manusia, tidak mengharap harta, tidak menuntut balasan, tidak menginginkan popularitas, tidak menghendaki imbalan serta ucapan terima kasih.

Sungguh, pahala amal kami hanyalah dari Allah SWT yang telah menciptakan

4.Kenapa harus Al Qur’an
Karena Al Qur'an merupakan sumber hukum terbaik yang ada di dunia. Selain itu, Allah juga sampaikan dengan jelas dalam Al Qur’an secara langsung. Dalam surat Al Baqarah: 2-20 sekaligus pembagian manusia:

1. Manusia Bertaqwa (4 ayat)
(2) Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
(3) (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,
(4) dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
(5) Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.

2. Manusia Kafir (2 ayat)
(6) Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman.
(7) Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.
3. Manusia Munafiq (13 Ayat)
(8) Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian", padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.
(9) Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.
(10) Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.
(11) Dan apabila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan."
(12) Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.
(13) Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman", mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.
(14) Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman." Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok".
(15) Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.
(16) Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.
(17) Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
(18) Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).
(19) atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.
(20) Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jika Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.

5. Ada apa dengan Masjid
Kita mungkin sudah ratusan kali masuk keluar masjid. Namun, banyak yang menjadikan kunjungan ke masjid hanya rutinitas belaka. Tanpa makna dan arti apa-apa. Hanya sekedar menjalankan kewajiban. Ketahuilah, bahwa Masjid memiliki nilai luar biasa, diantaranya:
1.Rumah Allah, sehingga siapa yang masuk kedalamnya akan dijamu oleh-Nya.
2.Pusat kebaikan, sehingga orang-orang yang memasukinya akan merasa tentram dan tenang.
3.Pusat peradaban, buktinya bisa kita lihat hingga sekarang.
4.Pusat pertemuan, dalam waktu-waktu sholat, pernikahan, bahkan juga ibadah haji.
5.Pusat ukhuwah dan persatuan


6. Pentingnya Ihsan
Saat ini, kita sangat susah mendapatkan orang-orang yang bisa dipercaya. Apalagi kalau berkaitan dengan uang dan organisasi (kecil, menengah, maupun besar). Apalagi yang berada dilevel pimpinan. Tentu, minimal sekali menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri.

Salah satu solusi untuk permasalahan kepemimpinan yang demikian komplek saat sekarang ini adalah mencari orang-orang yang ihsan.
Apa itu ihsan? Malaikat Jibril menrangkan kepada Rasulullah SAW bahwa ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau dilihat oleh-Nya, walaupun engkau tidak bisa melihat-Nya.

Sederhananya, ihsan adalah seorang manusia yang merasa diawasi oleh Allah SWT dalam setiap niat dan aktivitas apapun yang dikerjakannya. Sehingga, tidak akan pernah ia berlaku curang, sombong, apalagi berlaku dzalim.

7. Tumbuhkan sifat Rahmah
Seorang da’i atau pun seorang Muslim perlu menumbuhkan sifat Rahmah atau kasih sayang karena sesama Muslim pada hakikatnya adalah bersaudara. Karena satu keturunan dari Nabi Adam dan Siti Hawa.

Kasih sayang yang luar biasa seperti ungkapan berikut ini:
Kami lebih cintai Umat dari pada diri kami sendiri. Sungguh, jiwa-jiwa kami senang gugur sebagai penebus kehormatan mereka, jika memang tebusan itu yang diperlukan. Atau melayang untuk membayar kejayaan, kemulian agama, dan cita-cita mereka, jika memang mencukupi.

Sungguh, kami benar-benar sedih melihat apa yang menimpa umat ini, sementara kita hanya sanggup menyerah pada kehinaan, ridha pada kerendahan, dan pasrah pada keputusasaan.

Sungguh, kami berbuat dijalan Allah untuk kemaslahatan seluruh manusia, lebih banyak dari apa yang kami lakukan untuk kepentingan diri kami.
Kami milik kalian saudara-saudara tercinta, bukan orang lain. Sesaat pun kami tak akan pernah menjadi musuh.

Sikap ini karena kasih sayang yang telah mencengkeram hati kami, menguasai perasaan kami, menghilangkan kantuk kami, dan mengalir air mata kami.


8. Segeralah Beramal
Melakukan amal-amal kebaikan harus segera dilakukan, karena kita tidak tahu kapan kita akan kembali pada Allah SWT. Alangkah ruginya kita, bila saat dipanggil Allah SWT kita tidak memiliki amalan kebaikan yang bayak. Sehingga sengsara dan azab yang akan kita dapatkan.
Bila kita pernah melakukan dosa dan kesalahan, maka bersegera pula untuk bertobat.


9. Raih Jannah tertinggi
Karena kita semua tentu ingin menjadi dan mendapatkan yang terbaik. Bukankah sah-sah saja kita berkeinginan untuk meraih Syurga tertinggi sehingga bertemu para Nabi dan Rasul serta orang-orang terbaik yang pernah hidup dahulu kala maupun dimasa yang akan datang?
Semoga kita semua termasuk orang-orang yang dipilih Allah SWT untuk menjadi penghuni Syurga tertinggi. Yaitu Syurga Firdaus. Amin.

Penutup

Bulan Rajab yang didalamnya ada momentum Isra' Mi'raj merupakan pintu menuju bulan-bulan mulia lainnya. Yaitu bulan Sya'ban dan Ramadhan. Mulailah sejak saat ini kita berdoa agar kita tetap hidup dan masih dapat melaksanakan sebanyak-banyaknya ibadah dibulan utama seperti bulan Ramadhan. Agar perbekalan kita untuk pulang kembali pada Allah SWT benar-benar cukup untuk menyelamatkan hidup kita dunia dan akhirat.

Pidato, Ceramah, Khutbah "RIDHA DENGAN TAKDIR ALLAH SWT"



BANYAK sekali orang yang mengeluh karena diliputi rasa cemas. Sumber kecemasan dan permasalahan mereka adalah beberapa hal yang tidak ada penyelesaiannya. Hal-hal itu sudah menjadi takdir dari Allah yang tidak dapat ditolak.
Inti permasalahan mereka adalah karena mereka tidak ridha atau tidak menerima takdir Allah atau bisa juga karena mereka tidak dapat menyesuaikan diri dengan suasana baru. Ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri dengan suasana baru setelah terjadinya beberapa peristiwa atau musibah adalah hal yang biasa dialami oleh sebagian orang yang lemah iman. Hal ini sangat berbahaya sekali karena dapat mengarah kepada penyakit jiwa.
Agama kita yang suci telah membimbing agar kita senantiasa sabar ketika menghadapi musibah. Bahkan, agama telah menjelaskan kepada kita bahwa cobaan de-ngan beberapa kejadian adalah suatu karunia. Berawal dari hal ini, kita harus menyikapinya dengan baik. Salah satunya, kita harus bersabar dalam menghadapinya, ridha dengan ketentuan Allah, dan tidak merasa khawatir ketika terjadi musibah-musibah itu.
Allah swt. berfirman,
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta,jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun.’ Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempuma dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. ” (al-Baqarah: 155-157)
Sosok muslim yang benar adalah sosok yang mampu menanggung musibah-musibah yang dialaminya dengan hati yang teguh, keyakinan yang mendalam, dan kesabaran yang baik. Oleh karena itu, janganlah Anda khawatir dan mengatakan sesuatu yang menjadikan Allah swt. marah. Misalnya dengan berkata, “Kenapa musibah ini menimpaku dan bukan menimpa orang lain?” Perkataan seperti itu adalah perkataan orang yang tidak beriman.
Orang yang beriman, tentu mengetahui bahwa takdir Allah swt. akan menjadi kebaikan baginya, baik di dunia rnaupun di akhirat. Sekalipun takdir ini secara lahir tampak sebagai suatu musibah yang amat besar, namun hal itu akan menjadi sebuah kebaikan bagi seorang yang beriman. Sungguh, Allah swt. itu hanya menghendaki kebaikan bagi se-orang muslim untuk selamanya. Rasulullahsaw. bersabda,
Alangkah mengagumkan keadaan orang mukmin karena semua urusannya itu baik baginya. Bila ia ditimpa kebahagiaan, ia bersyukur dan itu menjadi kebaikan baginya. Bila ia ditimpa kesusahan, ia bersabar dan itu menjadi kebaikan pula baginya. ” (HR Muslim)
Balasan bersyukur dan bersabar adalah surga. Di sana terdapat pula aspek lain dari takdir yang tidak kita ketahui. Terkadang takdir tampak jelas dan tidak tampak jelas oleh kita di dunia. Namun, seorang muslim hendaknya mengatakan, “Semuanya itu sudah menjadi takdir Allah dan apa yang Allah kehendaki itu pasti terjadi.” Hendaknya pula, seorang muslim ridha dengan ketentuan dan takdir-Nya serta mengetahui bahwa bila takdir ini ia sikapi dengan bersabar, maka hal itu akan menjadi kebaikan dan berakibat baik baginya. Selain itu, Allah juga akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik.
Allah swt. berfirman,
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. ” (al-Baqarah: 216)
Terkadang pada Anda terjadi suatu hal yang tidak anda sukai, yang secara tampak bagai siksaan, akan tetapi pada intinya hal itu adalah rahmat dari Allah yang kelak akan Anda ketahui maksudnya.
Oleh karena itu, janganlah Anda menyiksa diri Anda dengan tidak meridhai ketentuan dan takdir-Nya, Janganlah Anda menyiksa diri Anda denganmengatakan pada diri sendiri, “Seandainya aku melakukan ini, niscaya aku bisa mencegah terjadinya hal ini.” Hal itu hanya akan membuat Anda merasa kecewa dan menyesali masa lalu. Perlu disadari bahwa walaupun Anda sangat menyesal dan berbuat apa saja, Anda tidak akan dapat mengulanginya kembali. Lantas untuk apa Anda menangisi susu yang sudah tumpah?
Rasulullah saw. telah memperingatkan kita agar tidak berputus asa karena dengan putus asa itu, seseorang akan menyiksa dirinya sendiri, yaitu ketika ia menyangka bahwa ia mampu untuk mencegah takdir ini seandainya ia berbuat ini dan itu.
Rasulullah saw. bersabda,
“janganlah kamu mengatakan, ‘Seandainya aku mengerjakan ini niscaya begini dan begitu.’ Akan tetap! katakanlah, ‘Semuanya itu telah menjadi takdir Allah dan apa yang Allah kehendaki ttu pasti terjadi.’ Sesungguhnya 1 kata seandainya akan membuka pintu perbuatan setan.” (HR Muslim)
Kata seandainya memang akan membuka pintu setan.
Oleh karena itu, janganlah Anda menduga bahwa Anda mampu mencegah apa yang telah terjadi karena itu adalah takdir dan takdir sudah pasti terjadi. Selain itu, janganlah berpikir mengenai apa yang telah terjadi, pikirkanlah apa yang masih dapat Anda kerjakan.
Ketahuilah, bahwa takdir Allah pasti terlaksana. Maka, jika Anda benar-benar menerimanya dan sabar dengan takdir itu, kemudian Anda memuji Allah dan mengembalikan segala sesuatunya kepada kehendakAllah, berarti Anda tergolong sebagai orang-orang yang menang dan selamat. Bila Anda merasa khawatir dan tidak menerima, lalu Anda sedih dan gusar dengan takdir itu, takdir Allah tetap akan terlaksana. Oleh karenanya, pada saat awal terjadinya peristiwa itu, sebaiknya Anda memuji Allah swt. mengembalikan segala sesuatu kepada-Nya, dan hendaknya Anda tidak gusar dengan takdir itu. Setelah Anda merasa agak tenang, hendaknya Anda mengatakan, “Sungguh aku telah bersabar.”
Sesungguhnya sabar ada pada peristiwa pertama kali dan ketahuilah bahwa Allah akan memberikan cobaan kepada hamba yang dicintai-Nya. Dalam hadits Rasu-lullah saw. disebutkan,
“Orang yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian setelah itu orang-orang saleh, setelah itu yang serupa dengan mereka dan hingga seterusnya. ”
sumber : Membangun Positive Thinking Secara Islam – Adil Fathi Abdullah

Pidato, Ceramah, Khutbah "KARENA SURGA ITU MANIS"



Jika ditanyakan kepada manusia, pilih surga atau neraka? Dengan informasi yang seadanya, dengan bekal informasi bahwa surga itu nikmat dan neraka itu menyeramkan, maka dengan lantang pasti akan memilih surga. Tapi, tahukah kita bahwa jalan menuju surga itu sulit dan jalan menuju neraka begitu mudah?
Dari Abu Hurairah ra., sesungguhnya Rasulullah saw. Bersabda (yang artinya): “Ketika Allah menciptakan surga, Dia berfirman kepada Jibril, ‘Pergi dan lihatlah (surga itu)’. Jibril pun pergi untuk melihatnya. Jibril kembali seraya berkata, ‘Tuhanku, demi keperkasaanMu, tidak seorang pun mendengar (tentang surga itu) kecuali dia (ingin) memasukinya’. Kemudian Allah Swt. mengelilingi (surga) dengan kesulitan-kesulitan (untuk mencapainya) dan berfirman kepada Jibril, ‘Wahai Jibril! Pergi (lalu) lihatlah (surga itu)’. Jibril pun pergi untuk melihatnya. (Jibril) kembali seraya berkata, ‘Tuhanku, demi keperkasaanMu, sungguh aku khawatir tidak seorang pun yang (dapat) memasukinya’.”
Rasulullah saw. juga bersabda: “Tatkala Allah Ta’ala menciptakan neraka, Dia berfirman, ‘Wahai Jibril! Pergi (lalu) lihatlah (neraka itu)’. Jibril pun pergi untuk melihatnya. (Jibril) kembali seraya berkata, ‘Wahai Tuhanku, demi keperkasaanMu dan kemuliaanMu, tidak seorang pun mendengar (tentang neraka itu) kecuai ia tidak berkeinginan untuk memasukinya’. Kemudian Allah Swt. mengelilingi (neraka itu) dengan keinginan-keinginan syahwati dan berfirman kepada Jibril, ‘Wahai Jibril! Pergi dan lihatlah neraka itu’. Jibril pun pergi untuk melihatnya. Kemudian ia kembali dan berkata, ‘Wahai Tuhanku, demi keperkasaanMu dan kemualiaanMu, sungguh aku khawatir bahwa tidak akan tersisa seorang pun kecuali akan memasukinya’.” (dalam penjelasan kitab Sunan Abu Daud, hlm. 13-14)
Selama hidup adalah ujian
Surga dan neraka adalah ganjaran bagi manusia sesuai dengan perbuatan atau amalannya selama di dunia. Bro en Sis, di sekolah atau di tempat kerja kita bisa berprestasi dalam belajar dan karir kita. Mereka yang berprestasi akan diganjar dengan berbagai macam penghargaan dan fasilitas yang baik. Allah Swt. menjadikan surga sebagai ganjaran bagi manusia yang bertakwa, dan neraka menjadi ganjaran yang pas bagi manusia yang membangkang perintahNya. Dan, perlu ditekankan bahwa hidup di dunia ini setiap detiknya adalah ujian. Ujian yang hasilnya akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah kelak di akhirat. Itu artinya, setiap hari kita harus menerima dan mengatasi berbagai ujian yang diberikan oleh Allah Swt.
Jangan bayangkan bahwa ujian selalu hal yang pasti sulit dan menderita, adakalanya ujian yang diberikan Allah Ta’ala justru kita rasakan sebagai nikmat dan istimewa. Memang benar, ujian yang mendera kita berupa rasa sakit dan kesulitan ekonomi seringkali membuat kita harus lebih banyak bersabar dan berdoa untuk tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan dan kekafiran. Tapi, jangan bayangkan pula jika kita diberikan kesehatan, kekayaan dan kekuasaan adalah semata sebagai kebahagiaan, karena sejatinya itu juga merupakan ujian dari Allah.
Nikmat kesehatan yang diberikan Allah Swt itu apakah akan mengantarkan kita untuk bersyukur atau malah sebaliknya, untuk ingkar kepada Allah? Nikmat kekayaan dan kekuasaan yang kita rasakan, apakah akan membuat kita bersyukur atau malah sombong dan dengan bebas menggunakan harta yang kita miliki untuk suka-suka tanpa aturan syariat Islam? Dengan kenyataan seperti ini, maka pantas jika kesehatan, kekayaan dan kekuasaan pun termasuk bagian dari ujian yang Allah berikan. Bergantung manusianya, apakah akan bersyukur atau malah kufur. Firman Allah Swt. (yang artinya): “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih.” (QS Ibrahim [14]: 7)
Memang banyak orang yang tak tahan dengan penyakit yang diderita dan kemiskinan yang mendera mereka sehingga mengambil jalan pintas untuk bunuh diri demi mengakhiri hidupnya yang menanggung rasa sakit yang berat, atau tega berbuat maksiat dengan cara menjarah harta yang bukan miliknya demi memenuhi kehidupan ekenominya yang tak kunjung menunjukkan grafik yang meningkat
Begitu pun bagi sebagian dari kita banyak yang tidak tahan menghadapi ujian berupa kesehatan, harta yang banyak dan juga kekuasaan. Jangan-jangan, kesehatan tubuh dan kekuasaan ternyata malah membuat kita merasa sombong, sebagaimana halnya dengan Fir’aun yang menganggap dirinya sebagai Tuhan, karena selama hidupnya memang dia nyaris tak pernah sakit berat ditambah pula dia memang punya tahta dan harta. Klop. Fir’aun jadi sombong. Sehingga ketika Musa mengajaknya untuk beriman kepada Allah, Fir’aun malah mendustakannya dan bahkan mendurhakainya. Allah Swt membeberkan kisah ini dalam firmanNya (yang artinya): “dan katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)”. Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepadaNya?”. Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi Fir’aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (Seraya) berkata: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”. Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya).” (QS an-Naazi’aat [79]: 18-26)
Ini kian meneguhkan bahwa selama kita masih hidup, ujian akan datang menghampiri kita selama itu. Karena hidup itu sendiri adalah ujian. Tinggal bagaimana kita menyikapinya dan menjadikan kehidupan ini lebih bermakna berlandaskan keimanan kepada Allah Swt. Dzat yang telah menciptakan kita dan seluruh alam ini, termasuk surga dan neraka.
Itu sebabnya, jika kita ingin masuk surga, ada jalan yang harus kita lalui. Meski banyak rintangan, bukan berarti kita mundur untuk melaluinya. Karena surga begitu manis. Jangan pula tergoda memilih jalan yang bertabur syahwat meski itu sangat menyenangkan, karena pada akhirnya akan mengantarkan kita menuju neraka. Semua sudah dalam kekuasaan kita, apakah lebih memilih untuk masuk surga atau neraka. Dengan adanya pilihan tempat kembali di akhirat kelak, ini membuktikan bahwa dunia ini memang ujian dan Allah Swt. hanya akan memberikan tempat yang layak kepada mereka yang berhasil mengikuti petunjukNya. Sebaliknya Allah akan memberikan tempat yang buruk, yakni neraka bagi siapa saja yang menentangNya dan mendurhakaiNya.
Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan hadist yang diriwayatkan Abu Said al-Khudri ra bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Surga dan neraka mengajukan protes. Surga berkata, ‘Ya Tuhanku, kenapa yang masuk ke dalam surga hanya orang-orang yang lemah dan orang-orang kelas gembel?’ Neraka berkata, ‘Ya Tuhanku, kenapa yang masuk ke dalam neraka ini hanya orang-orang yang kejam dan sombong?’ Allah berkata, ‘Surga, engkau adalah rahmatKu yang Aku berikan denganmu siapa saja yang Aku kehendaki. Dan neraka, engkau adalah siksaKu yang Aku berikan denganmu siapa saja yang Aku kehendaki. Setiap masing-masing dari kalian mempunyai penghuni’.” (Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Tamasya ke Surga, hlm. 15)
Kumpulkan pahala berharap surga
Surga adalah tempat yang eksklusif alias hanya disediakan dan diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Tidak semua manusia bisa masuk ke surga. Itu artinya, untuk mendapatkan ‘tiket’ ke surga harus mengikuti syarat dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. Sang Pemilik surga itu sendiri. Dan, tentunya Allah Swt. juga berhak dan berkuasa penuh untuk memasukkan manusia ke dalam neraka. Jangan khawatir, Allah Swt. tak mungkin salah dalam mengkalkulasi amalan kita. Catet, Bro.
Bro en Sis, ketika begitu banyak informasi tentang keindahan dan kenikmatan yang ditawarkan surga sebagaimana janji Allah bagi hamba-hambaNya yang beriman, pantas bagi kita untuk segera dengan semangat menjadi pribadi-pribadi yang terbaik dalam iman, ilmu dan amal shalih. Tentu, agar Allah Swt. sayang dan cinta kepada kita semua dan memasukan kita ke dalam surgaNya. Insya Allah.
Kita berharap, berdoa, dan berusaha sekuat mungkin agar kita bisa meretas jalan menuju surga dengan mudah dan sukses. Semoga Allah Swt. menanamkan keimanan  dan ketakwaan yang kokoh dalam diri kita sebagaimana yang Allah berikan kepada Muhammad saw. dan para sahabatnya. Semoga Allah menancapkan keberanian yang hebat dalam membela Islam sebagaimana telah Allah tancapkan keberanian membela Islam kepada para pejuang Perang Badar. Semoga Allah memberikan kemenangan kepada dakwah Islam yang kita gelorakan saat ini, sebagaimana kemenangan yang telah Allah berikan kepada Muhammad saw. dan para sahabatnya di setiap peperangan yang dimenangkannya.
Semoga kita menjadi hamba-hambaNya yang pandai bersyukur dan senantiasa gemar melakukan amal shalih. Semua manusia  menginginkan surga jika kenikmatannya begitu luas, indah, dan menyenangkan. Tapi, hanya manusia pilihan saja yang bisa meraihnya. Semoga kita adalah manusia pilihan Allah yang bisa menikmati surgaNya. Amin.

Rabu, 22 Mei 2013

Arti Cinta



Nama cinta bukanlah untuk sesuatu yang nista. Cinta adalah anugerah Yang Kuasa yang harus kita jaga kesuciannya. Jika kita mencintai kekasih kita, maka dengan cinta itulah kita menjaganya, bukan menodainya. Cinta selalunya suci dan mulia bila ia dimiliki oleh seorang “pecinta sejati”. Banyak kisah cinta yang menjadi legenda. Tajmahal yang indah di negeri India tercipta karena cinta. Rabiah Al Adawiyah menjadi legenda sufi wanita karena cintanya pada Sang Pencipta.

Pasangan legenda Rama–Shinta, Romeo–Juliet, Kais–Laila, menjadi kisah sepanjang masa karena cinta mereka. Tidak ada kisah melegenda tentang nafsu yang tak terkendali dalam hubungan dua insan lain jenis tanpa ikatan pernikahan. Adanya hanyalah skandal, perselingkuhan, perzinaan, dan nama lain sejenis yang amoral.

 benarkah itu cinta? Ataukah hanya nafsu yang terkamuflase?